10/05/2009 12:56Liputan6.com, Jakarta: Terumbu karang atau koral seluas 75 ribu kilometer persegi yang merupakan rumah-rumah ikan di perairan Indonesia kini rusak parah akibat tangan-tangan manusia tak bertanggung jawab. Penyebabnya adalah penangkapan ikan menggunakan bom dan pencabutan terumbu karang untuk hiasan aquarium.
Padahal, keberadaan terumbu karang dapat mengurangi efek rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global dan meningginya permukaan laut. Semakin menipis koral, semakin panas pula suhu bumi.
Solusi kerusakan lingkungan ini akan jadi salah satu topik terpenting yang akan dibahas enam kepala negara termasuk Indonesia dalam Coral Triangle Initiative Summit di World Ocean Conference di Manado, Sulawesi Utara, mulai 11 hingga 15 Mei 2009.(IRN/David Silahooij dan Anto Susanto)
Kerusakan Terumbu Karang Akibatkan Pemanasan Global
Dampak Global Warming Terhadap Pertanian dan Persedian Makanan
Menurunnya Sumber Air, Kemarau Panjang, Efek Global Warming
Saat pemanasan global ini terjadi, tanaman akan bereaksi menyerap CO2 kerena banyaknya karbondioksida di udara merupakan materi mentah bagi tumbuhan untuk melakukan proses fotosintesis dan akan menjadi seimbang dengan gas yang dilepaskan saat materi dari tumbuhan yang mati mulai membusuk. Efek dari perubahan iklim yang cepat bisa berdampak buruk atau baik tergantung pada jenis tumbuhan itu sendiri. Biasanya tumbuhan merspon perubahan temperatur secara lebih lambat daripada hewan dengan beberapa cara. Menurut Michael Allaby, tumbuhan akan mengkoloni tempat baru dan akan mati di tempatnya yang lama, atau mereka akan melakukan migrasi ke tempat yang iklimnya lebih sesuai untuk pertumbuhannya. Biasanya migrasi ini dilakukan oleh angin, burung, atau hewan lain yang secara sengaja atau tidak sengaja membawa benih atau bijinya.
Pada jaman es, semua tumbuhan musnah saat lapisan es mulai meluas, tapi spesies tumbuhan di garis lintang lebih bawah akan bertahan hidup dan tumbuh kembali saat lapisan es mulai menghilang. Seperti jaman es terakhir yang merupakan akhir dari vegetasi tundra di selatan Inggris bergerak ke utara dan spesies baru berkembang biak jauh di selatan. Tumbuhan biasanya akan bermigrasi 1 km di dalam setahunnya. Jika temperatur semakin naik, maka kemungkinan banyak tumbuhan tidak dapat bermigrasi lebih cepat dan tidak bisa beradaptasi dengan perubahan iklim yang terjadi secara mendadak.
Tanaman pertanian sangat bergantung pada kemampuan manusia dalam mengolah tanah dan mengantisipasi perubahan iklim dan musim, sehingga tanaman dapat bermigrasi cepat seperti yang dinginkan para petani. Jika terjadi pemanasan global ini, wilayah di garis lintang yang lebih tinggi akan cocok untuk pertanian yang dulunya didominasi hutan yang berganti daun seperti di Rusia dan Kanada. Sebaliknya di garis lintang selatan akan menjadi lebih kering, meningkatkan padang pasir di Asia tengah seperti di Cina dan Amerika barat, Amerika selatan, dan Afrika. Lahan pertanian tropis semi kering di beberapa negara di afrika mungkin akan mengalami gagal panen karena mereka sangat menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang mempunyai kumpulan salju di musim dingin sebagai reservoir alami. Sayang saat pemanasan global terjadi, salju di gunung itu mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam, bahkan akan menipis atau hilang sama sekali seperti yang terjadi di Kilimanjaro. 
Salah satu contohnya adalah saat ini gurun Sahara semakin meluas dan membuat pertanian di pinggir gurun Sahara mengalami gagal panen dan banyak yang mati kelaparan setiap tahunnya. Dulunya Sahara adalah wilayah yang cukup subur dan dijadikan lahan pertanian 8000 tahun yang lalu, tapi kemudian kondisi tanahnya berubah menjadi lebih kering dan mulai ditinggalkan manusia. Kondisi seperti ini menjadi rawan konflik seperti yang terjadi di Sudan dimana sering terjadi perang sipil yang dipicu oleh perebutan tanah karena terbatasnya lahan pertanian yang subur dan banyaknya populasi manusia. Perluasan gurun pasir Sahara di Sudan ini terjadi karena penggundulan hutan, pengolahan tanah yang tidak baik, dan penggunaan bahan bakar dari kayu bakar sebesar 76,5 dari persediaan energi di Sudan (pada tahun 1996).
Michal Allaby memprediksikan jika lapisan es mencair terlalu cepat dan melepaskan air tawar ke lautan, sehingga mengubah iklim menjadi lebih dingin. Jika itu yang terjadi, maka kita tidak dapat lagi menanam tanaman biji-bijian atau padi-padian dan pertanian akan menubah tanamannya dengan tanaman pangan dari akar. Jika iklim berubah menjadi lebih panas, maka para petani di Eropa tidak bisa lagi menanam gandum di utara secara luas karena tergantung curah hujan. Jagung bisa ditanam lebih jauh lagi di utara. Tidak jauh berbeda dengan di Eropa, contohnya di Selatan Kanada mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Ada kemungkinan dengan perubahan iklim yang sangat cepat ini, tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga, hama, dan penyakit yang lebih dahsyat. 
Pengaruh pemanasan global di Indonesia sudah sangat kita rasakan saat ini. kita sudah tidak bisa meramalkan kapan musim hujan atau musim kemarau tiba. Semuanya bisa berubah begitu cepat dan tidak pasti lagi, akibatnya para petani di Indonesia sudah sangat sulit mengetahui kapan masa tanamnya. Yang menjadi masalah lagi jika persediaan air semakin menipis dan tidak bisa mengaliri irigasi karena iklim berubah menjadi lebih panas, tanah semakin mengering, dan air semakin cepat menguap, sudah pasti kita akan mengalami krisis pangan yang begitu genting dan kelaparan akan semakin meluas.
Dari studi yang sudah ada menunjukan produktivitas padi di China akan menurun 5-12 persen apabila suhu mengalami kenaikan 3,6 derajat Celsius. Kasus yang sama juga akan terjadi di Bangladesh. Produksi gandum di Bangladesh akan turun seperti tetangganya pada 2050 dibandingkan dengan produksi saat ini jika kenaikan suhu terjadi. Kemungkinan efek dari pemanasan global di dalam budidaya padi di Indonesia tidak jauh berbeda dengan di China atau Bangladesh, atau mungkin jauh lebih buruk saat terjadi musim kemarau yang panjang dan musim hujan yang tidak kunjung datang. 
Dadang Rusbiantoro
GLOBAL WARMING ONLINE| http://mcarmand.blogspot.com
Dampak Global Warming terhadap Kesehatan Manusia
Saat pemanasan global terjadi dan iklim di bumi menjadi lebih hangat, para ilmuan memprediksi bahwa banyak orang akan meninggal karena gelombang panas seperti yang terjadi pada musim panas di Eropa pada tahun 2003 dimana 35.000 orang meninggal dunia. Selain itu, iklim yang hangat ini membuat wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis semakin meluas dan kemugkinan dapat berpindah tempat ke daerah yang dulunya dingin dan subtropis seperti di Eropa dan Amerika. Wabah penyakit yang diakibatkan nyamuk ini adalah malaria atau demam berdarah. Diperkirakan saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah yang biasa terjadi wabah malaria. Jika iklim di bumi semakin menghangat, presentase itu akan meningkat menjadi 60 persen.
Malaria sendiri adalah penyakit yang disebabkan oleh nyamuk pembawa parasit malaria yang disebut protozoan dari genus Plasmodium. Ciri-cirinya biasanya tubuh yang dijangkiti penyakit malaria ini akan mengalami demam yang tinggi, koma, dan dalam kasus yang fatal bisa mengakibatkan kematian . Biasanya parasit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk betina yang 60% adalah nyamuk jenis anopheles. Biasanya nyamuk ini menyerang manusia pada malam hari dan menjadi wabah yang sangat menakutkan pada musim hujan saat mereka mulai berreproduksi dan membutuhkan darah merah yang kaya protein untuk memberi makan kepada telur-telurnya. 
Malaria ini menjadi endemik di 106 negara dan mengancam sebagian besar populasi penduduk dunia, terutama di negara berkembang seperti di Asia dan Afrika. Yang paling mengkhawatirkan adalah parasit ini sudah tidak mempan lagi disembuhkan dengan berbagai macam obat dan sangat susah dikontrol penyebarannya. Negara yang paling parah terkena wabah malaria ini adalah Zambia. Di Zambia, ada empat jenis Malaria yang sangat berbahaya karena langsung menyerang otak manusia, sehingga menyebabkan 20 persen dari semua bayi di Zambia tidak bisa hidup lebih dari usia lima tahun. Di Indonesia, penyakit malaria ini sering mewabah di Sumatera dan Irian Jaya yang menjadi sangat rawan terhadap endemik malaria. Saat suhu rata-rata di Sumatera dan di Irian Jaya naik diantara 25o sampai 27o celcius, suhu tersebut merupakan suhu ideal bagi perkembangbiakan nyamuk malaria. 
Wabah demam berdarah juga akan melanda di seluruh dunia saat iklim menjadi lebih hangat, terutama di Amerika dan di daerah tropis. Saat curah hujan mulai meningkat dan hampir semua daerah di seluruh belahan bumi ini menjadi lebih hangat, penyebaran penyakit demam berdarah akan semakin meluas. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dari PBB, 3,5 milyar orang di tahun 2085 berresiko terkena penyakit demam berdarah. Penyakit demam berdarah ini biasanya ditularkan lewat nyamuk Aedes aegypti. Di Indonesia, penyakit demam berdarah adalah salah satu wabah penyakit yang paling mematikan dan terjadi setiap tahun saat musim hujan tiba, biasanya penderita penyakit demam berdarah ini adalah orang yang tinggal di perkampungan kumuh yang padat penduduk dan setidaknya berada di pinggir sungai. Jika pemanasan global ini terjadi, maka wabah demam berdarah akan meluas ke seluruh Indonesia.
Selain penyakit malaria dan demam berdarah, banyak ilmuan meramalkan akan muncul berbagai penyakit baru yang tidak diketahui sebelumnya dan belum ada obatnya seperti SARS, flu burung, Avian malaria, berbagai macam flu yang mematikan, atau bahkan ebola. 
Jika berbagai macam wabah penyakit ini muncul secara mendadak seperti yang terjadi pada tahun 1918 dimana epedimik flu telah mengakibatkan 40 juta orang meninggal, maka sebagian populasi penduduk dunia akan terancam. Apalagi di era globalisasi saat ini dimana orang bisa berpindah tempat dari satu negara ke negara lain tanpa mengenal ruang dan waktu, maka penyebaran berbagai macam wabah penyakit akan sangat sulit untuk ditanggulangi lagi dan mampu diisolasi di satu tempat saja.
Dadang Rusbiantoro
Peningkatan Malaria, Dampak Pemanasan Global, Efek Global Warming
Dampak Global Warming terhadap Ekosistem

Yang paling dirugikan dari efek pemanasan global adalah penduduk yang tinggal di kutub utara dan jumlahnya sekitar 4 juta orang. Sepertiganya adalah penduduk asli yang lebih dikenal sebagai orang Eskimo atau suku Inuit. Mereka tinggal di wilayah Nunavut, Alaska, Siberia, dan Greenland. Kata Eskimo sendiri berarti “pemakan daging mentah” karena mereka mempunyai kebiasaan memakan daging tanpa harus dimasak lebih dahulu. Menurut perkiraan para arkeolog, mereka sudah hidup di Kutub Utara sejak 2000 tahun sebelum masehi dan tinggal di sekitar Alaska. Mata pencaharian mereka biasanya adalah memancing ikan, berbuuru karibou, singa laut, sehingga mereka sangat menggantungkan hidup pada ekosistem es di kutub utara. Saat es mulai mencair, mereka harus beradaptasi dengan semua perubahan ini dan dengan terpaksa mereka akan kehilangan wilayah berburu, bahkan rumah tinggal mereka selama ini. Mereka juga harus mengubah kebiasaan hidupnya sehari-hari yang sudah diturunkan dari nenek moyangnya. Kemungkinan terburuk, mereka adalah korban pertama dari pemanasan global ini.
Saat pemanasan global terjadi secara menyeluruh, hewan mempunyai habitat di iklim yang dingin dan tinggal di wilayah tundra akan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Pemanasan Global ini menyebabkan musim semi datang lebih awal dan musim gugur datang terlambat, sehingga musim kawin yang berlangsung selama musim semi datang lebih awal dan lebih lama di belahan bumu utara. Hewan yang dapat beradaptasi terhadap perubahan punya kesempatan lebih besar untuk menurunkan sifat genetiknya dan meningkatkan frekuensi gennya dalam populasi karena mereka harus menentukan kapan harus bereproduksi, hibernasi, dan bermigrasi di dalam perubahan iklim yang begitu cepat dan tidak menentu. Contohnya tupai merah dari Kanada menjadi fleksibel menyambut musim kawin lebih dulu agar dapat tetap menurunkan sifat genetiknya.
Beberapa jenis spesies harus beradaptasi dengan semua perubahan ini atau akan bermigrasi. Hewan yang paling rentan menghadapi perubahan iklim yang drastis ini adalah reptil. Seperti yang kita ketahui selama ini, reptil dikenal sebagai hewan berdarah dingin karena mereka sangat menggantung pada sumber panas dari luar seperti sinar matahari, batu atau kayu yang hangat, atau tanah yang hangat. Inilah yang membedakan reptil dengan mamalia dan burung yang mengambil sumber temperatur panasnya dari dalam. Dengan kondisi fisik seperti ini dan tidak mempunyai kelenjar keringat seperti manusia, jika terjadi perubahan iklim dan peningkatan suhu yang drastis, maka banyak reptil yang tidak bisa beradaptasi dan mengalami kepunahan seperti 70 persen spesies katak harlequin di hutan tropis Amerika Tengah dan Selatan saat ini.
Selain reptil, saat ini beberapa spesies burung juga menghadapi dampak buruk dari perubahan iklim ini dan terancam punah dengan kemungkinan di antara 2 sampai 72 persen, semuanya tergantung wilayah, skenario iklim bagi burung untuk berpindah ke habitat yang baru. Dari laporan World Wide Found yang berjudul Bird Species and Climate Change menunjukan berbagai macam dampak buruk perubahan iklim ini bagi burung, contohnya lahan basah di sepanjang pantai Mediterania di Eropa yang selama ini menjadi habitat bagi burung migran akan hancur dalam tahun 2080 saat permukaan air laut naik dengan peningkatan suhu dari 1,5-4,2oC. Perubahan iklim di Kanada juga akan membuat habitat burung tufted puffin menjadi tidak sesuai lagi.
Sebagai antisipasi dari perubahan iklim ini, burung juga mengubah perilakunya seperti mereka akan berkembang biak dan bertelur lebih awal dari musim semi. Dari 64 kajian megenai burung ini, mereka memajukan waktunya karena musim semi datang lebih awal 6,6 hari per dekade. Bahakan di Eropa dan Amerika Utara, burung-burung migran berhenti bermigrasi dan mereka tidak perlu lagi menghindari musim dingin yang membeku karena daratan Eropa menjadi lebih hangat dari sebelumnya. Beberapa burung ini tidak mampu datang lebih awal pada musim semi untuk berkembang biak dan memburu mangsanya seperti serangga yang akan mencapai puncak perkembangbiakan lebih awal karena perubahan iklim ini. Di Belanda, populasi burung penangkap serangga mengalami penurunan sampai 90 persen selama dua dekade terakhir ini. Burung migran ini harus berkembang biak lebih awal saat musim semi tiba di Eropa karena serangga akan mencapai puncak perkembangbiakan lebih cepat. Jika mereka terlambat mendapatkan serangga dan ulat sebagai sumber makanan bagi anak-anaknya yang baru menetas, maka banyak anak-anaknya akan mati kelaparan. Saat burung mulai berkembang biak, sumber makanannya justru sedang mengalami penurunan yang drastis, sehingga dapat dipastikan bahwa anak-anaknya akan mengalami kekurangan gizi.
Perubahan iklim ini juga akan berdampak buruk pada ekosistem di lautan. Jika air laut semakin memanas, maka akan terjadi peningkatan keasaman laut, dan terumbu karang adalah yang paling rentan menghadapi peningkatan keasaman ini. menurut Dr. Nerilie Abrahams dari Universitas Nasional Australia, terumbu karang seperti sedang mencatat kematiannya sendiri. “Kami tahu bahwa jumlah Karbon Dioksida yang dipompakan ke atmosfer sebetulnya mengubah keasaman laut, dan membuat lebih asam lagi. Bahayanya adalah tentu saja seluruh terumbu karang akan hancur dan larut karena asam tadi.” Persoalan perubahan suhu meupun berbagai perubahan lain yang dialami lautan sebetulnya bukanlah sesuatu yang luar biasa. Di masa lalu hal ini sudah barangkali terjadi, nemun perbedaannya adalah saat ini perubahan suhu tersebut dipicu oleh campur tangan manusia, jadi bukan karena sebab alami. 

Dadang Rusbiantoro
Dampak Buruk Pemansan, Sebab Akibat Migrasi Hewan, Efek Global Warming
GLOBAL WARMING ONLINE| http://mcarmand.blogspot.com
Kenaikan Permukaan Laut akibat Global Warming
Sejauh 30 tahun terakhir ini, pemanasan global telah menyebabkan lapisan es di laut Arktik di Kutub Utara menipis sebesar 40 persen. Di Antartika, lapisan es juga ikut mencair dengan tingkat yang sangat cepat akibat pemanasan global ini. selama ini Kutub Utara dan Selatan terdapat dua jenis es, yaitu es musiman yang biasanya terbentuk saat musim dingin tiba dan mencair saat musim panas datang, dan es abadi yang tebal dan tidak akan mencair sepanjang tahun. Sayang dari penelitian selama tahu-tahun terakhir ini menunjukkan penurunan dramatis bukan saja di dalam es musiman, tapi juga dalam es abadi Pada Bulan November, menurut Dr Mark Serreze, kawasan Arktik kehilangan 2 juta km2 persegi esnya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 

Saat atmosfer mulai menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan ikut menghangat, sehingga volumenya akan membesar dengan mencairnya es di kutub Utara dan Selatan. Akibatnya adalah naiknya tinggi permukaan laut dan lebih banyak volume air laut. Selama abad ke-20 ini, tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 - 25 cm (4 - 10 inchi). Lebih jauh lagi, para ilmuan IPCC meramalkan peningkatan lebih lanjut 9 - 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad ke-21. di tahun 2100 akan terjadi peningkatan air laut setinggi 15-90 cm. 
Peningkatan tinggi permukaan laut ini akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai seperti saat jaman es berakhir. Jika terjadi kenaikan air laut sampai 100 cm (40 inchi), maka akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda yang berada di bawah permukaan laut, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau kecil di seluruh dunia. Saat ini kenaikan air laut telah menenggelamkan pulau-pulau seperti Kiribati, Tuvalu, Vanuatu, dan Kepulauan Marshaal di lautan Pasifik, serta penduduk di kepulauan Carteret di Papua harus direlokasi karena kenaikan permukaan air laut ini. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya di dunia akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya seperti Amerika akan kehilangan kota New York, Florida, NewOrleans yang terletak di pinggir pantai dan Inggris juga akan kehilangan kota London, Manchester, dan Liverpol, dan mungkin yang paling parah adalah negara Belanda yang tanahnya cukup rendah dari permukaan laut. Sehingga negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai menuju ke daerah yang lebih tinggi atau di pegunungan. Negara-negara miskin di 

Di Indonesia, setiap tahunnya di Kota Jakarta mengalami penurunan permukaan tanah sampai 0,8 sentimeter per tahun akibat pengambilan air tanah dan pembangunan gedung bertingkat. Jika air laut sedang pasang, maka gelombangnya bisa mencapai 1-2 meter menghantam sepanjang pantai 
Dadang Rusbiantoro
Menyangkut | Es Kutub Mencair, Penyebab Air Pasang, Efek Global Warming
Perubahan Iklim dan Cuaca akibat Global Warming
Sebelum saya menjelaskan lebih jauh tentang dampak pemanasan global terhadap iklim dan cuaca di bumi, maka saya akan menjelaskan lebih dahulu apa itu iklim dan cuaca. Iklim adalahakibat jangka panjang dari radiasi matahari pada rotasi bumi yang berbeda-beda menurut letak permukaan dan atmosfer bumi. Biasanya perhitungannya dilakukan setiap tahun dan menurut temperatur rata-rata setiap musim.
Dari temperatur di daerah ikilim ini dibagi menjadi 5:
Daerah tropis, dengan rata-rata tiap tahun dan bulanannya sekitar 20o C 68o
Daerah subtropis, dengan temperatur dari bulan ke 4 sampai 11 di atas 20o C, dan keseimbangnya di antara 10o dan 20o C (50o sampai 68o F);
Daerah iklim sedang, temperatur dari bulan ke 4 sampai bulan ke 12 rata-rata 10o sampai 20o C, dan sisanya lebih dingin.
Daerah dingin dari bulan ke 1 to 4 dengan temperatur 10o to 20o C, dan sisanya lebih dingin.
Daerah kutub dengan 12 bulan di bawah 10o C.
Dari vegetasinya dapat digolongkan menjadi hutan hujan tropis,
Sedangkan cuaca adalah kondisi atmosfer khususnya di lapisan dekat dengan tanah pada suatu tempat dan waktu. Pengukuran cuaca ini berdasarkan temperatur, kelembaban, angin, gumpalan awan, matahari, dan curah hujan. Perubahan kondisi di atmosfer inilah yang disebut dengan cuaca.
Dalam pengukur mengenai cuaca dan iklim ini dibagi menjadi dua ilmu, yaitu meteorologi dan klimatologi. Meteorologi adalah kajian ilmiah menganai kondisi cuaca di atmosfer bumi setiap hari dan prediksinya. Biasanya jangka waktunya dari menit sampai jam. Sedangkan klimatologi adalah kajian menganai perubahan iklim di atmosfer dalam jangka panjang di daerah tertentu. Klimatologi ini biasanya mengukur rata-rata temperatur, kelembaban, curah hujan, angin, tekanan atmosfer, dan curah hujan. Jangka waktu klimatologi biasanya dari hari sampai ke tahun. Biasanya Meteorologi dan Klimatologi bekerja di dalam satu institusi, tapi pemanasan global ini lebih merupakan pekerjaan klimatologi daripada meteorologi.
Prediksi dari perubahan iklim dan cuaca akibat dari pemanasan global ini adalah terjadinya pemanasan di daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara melebihi daripada di daerah-daerah lain di muka Bumi, sehingga gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil karena permukaan air laut akan naik secara drastis.
Di kutub utara dan selatan akan sedikit sekali ditemukan es yang terapung. Di daerah-daerah yang biasanya mengalami hujan salju ringan, kemungkinan tidak akan mengalaminya lagi. Di pegunungan di daerah subtropis seperti Alpen, Himalaya, Chacaltaya di Bolivia, atau Kilimanjaro, sebagian besar pegunungan yang ditutupi salju akan semakin sedikit dan lapisan saljunya akan lebih cepat mencair. Padahal pegunungan yang bersalju ini merupakan resevoir bagi beberapa sungai besar seperti sungai Gangga di utara
50-90 % gletser di pegunungan Alpen juga akan menghilang dan tidak ada lagi orang bermain ski di
krisis air yang cukup parah, kekeringan meluas, para petani akan mengalami kegagalan panen, dan jutaan orang akan kekurangan air dan persediaan makanan.
Di Indonesia sudah mulai dan sering terjadi hal-hal seperti yang telah disebutkan di atas bahkan bukan hanya di daerah terpencil melainkan di sebagian daerah ibu 
Dadang Rusbiantoro
Akibat Perubahan Iklim, Latar Belakang Perubahan Iklim, Efek Global Warming
Head Line
-
Danau Tambing, Tempat Berburu Foto Profil Medsos - [image: Danau Tambing] Foto di Danau Tambing *Danau Tambing*. Akhir-akhir ini *Danau Tambing* atau *Telaga Tambing* ini kian *hits* saja sebagai te...9 tahun yang lalu
