Tampilkan postingan dengan label Pemanasan Global. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemanasan Global. Tampilkan semua postingan

Jadilah Pelopor Lingkungan, Kurangi Dampak Global Warming

Jika dalam keadaan terpojok dan bahaya , semua orang bisa menjadi pahlawan. Yang dibutuhkan bukan keperkasaan dan kekuatan, tapi hanyalah kemauan yang keras dan keberanian. Itulah yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Begitu juga saat ini saat dunia sedang terancam oleh global warming dan perubahan iklim yang sangat cepat. untuk mencegahnya, kita tidak perlu menunggu orang lain untuk bergerak, tapi kita bisa mulai dari diri kita. Biarpun apapun yang kita lakukan dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana, tapi nantinya akan bermakna dan mempunyai dampak yang besar bagi kehidupan kita.



Salah satu contoh pelopor lingkungan hidup yang terkenal adalah Profesor Wangari Maathai  dari Kenya. Saat dia melihat perubahan vegetasi secara luas dan perubahan iklim yang tidak menentu, hilangnya hutan, dan tanah di Kenya yang menjadi tidak subur lagi, dia bersama perempuan lain membentuk kelompok lingkungan yang bernama Gerakan Sabuk Hijau dan mendorong masyarakat Kenya untuk menanam pohon. Saat ini sudah 40 juta pohon yang ditanam untuk mencegah erosi tanah dan memberikan kayu bakar untuk memasak, sehingga dia dianugerahi sebagai wanita pertama di Afrika yang menerima hadiah Nobel Perdamaian.





Tidak jauh berbeda dengan Profesor Wangari Maathai , Hammer Simwinga juga melihat bahwa di Taman Nasional Luangwa Zambia Utara terjadi banyak perburuan badak dan gajah untuk diambil gading, cula, dan dagingnya oleh penduduk desa yang tinggal di sekitar Taman Nasional tersebut. Hatinya tergerak untuk menyelamatkan gajah dan badak dari kepunahan dengan cara memberdayakan masyarakat desa yang tinggal di sekitar Taman Nasional Luangwa Zambia Utara. Dia mencoba memperkuat perekonomian masyarakat desa dengan mengajak memelihara ikan, beternak lebah, dan menanam bunga matahari, sehingga mereka tidak lagi berburu lagi. Organisasi yang dibentuknya dari tahun 1987 sampai sekarang sudah mampu meningkatkan 35.000 peserta dari 64 desa yang mendapatkan akses untuk memperoleh mikrokredit dan pelatihan, mengelola penggilingan dan memproses minyak bunga matahari, dan mengembangkan usaha menjahit dan perkayuan. Saat ini 86 % peserta dari organisasinya mampu makan tiga kali sehari dibanding dulu yang hanya 20 %.



Sebagai Gubernur Propinsi Papua, Barnabas Suebu menghadapi persoalan yang sangat pelik dengan begitu banyaknya pembalakan hutan dan illegal logging. "Kita harus menyelamatkan hutan sebelum terlambat. Jika kita melakukannya, kita dapat membantu menyelamatkan planet dan mengurangi kemiskinan pada saat yang sama," katanya. Oleh karena itu, sejak menjadi gubernur di tahun 2006 dia tidak lagi memberikan ijin baru kepada pengusaha HPH untuk melakukan eksploitasi hutan di bumi Papua. Dia melarang ekspor kayu gelondongan dan nantinya perusahaan kayu di Papua diwajibkan memiliki pabrik pengolahan kayu sendiri. Misalnya saja kayu merbau dari Papua yang diseludupkan ke Cina hanya dijual US$ 10 atau Rp 90.000 per meter kubik, tapi sesampainya di Cina harganya bisa melambung tinggi dan dijual sampai US$ 1500 atau 13,5 juta per meter kubik. Dari fakta seperti ini menunjukan bahwa para penyeludup kayu ilegal sangat diuntungkan dengan perdagangan kayu merbau. Oleh kaena itu, dia mulai melakukan perdagangan karbon untuk menyelamatkan hutan Papua yang diperkirakan sekitar 31 juta hektar. Suebu juga melakukan perdagangan dengan Carbon Conservation dan Chicago Climate Exchange untuk mendapatkan pendapatan lebih daripada menjual kayu dari hasil penebangan hutan, sehingga dapat mencegah deforestasi dan melakukan reforestasi di daerah yang kondisinya cukup kritis.



Sebagai seorang ahli kimia, Abdul Hassam melakukan penelitian bertahun-tahun untuk menyelamatkan lingkungannya di Kushita Bangladesh dari pencemaran arsenik di dalam air tanah. Pencemaran arsenik ini sangat berbahaya karena tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa, tapi menyebabkan sakit, kerusakan syaraf, kanker, dan kematian. Dia mampu menemukan alat sederhana untuk menyaring arsenik ini alatnya hanya menggunakan campuran besi bersama dengan pasir sungai, arang, dan pecahan batubata yang basah. Alat yang dinamakan penyaring Sono ini mampu menghilangkan 98% arsenik di dalam air, sehingga diperkirakan alat ini mampu menyelamatkan sekitar 137 juta orang di seluruh dunia.




Shi Zhenrong adalah seorang tehnisi lulusan Universitas New South Wales dari China yang mencoba melakukan pengambangan tehnologi tenaga matahari di propnsi Wuxi setelah mendapat dukungan dana $6 juta dari pemerintah setempat. sejak saat itu penjualan teknologi tenaga matahari berkembang sangat pesat dan di tahun 2005 perusahaan Shi yang bernama Suntech Power berhasil menjadi perusahaan pertama di China yang terdaftar di perdagangan saham New York. Saat ini Shi menjadi milyader dan salah satu orang terkaya di China. Usahanya ini mampu menggantikan dari ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil menuju pada energi terbarukan.




Tidak jauh berbeda dengan Shi Zhengrong, Tulsi Tanti sebagai pengusaha tekstil di India melihat bahwa negaranya mulai mengkonsumsi energi seperti Amerika dan membengkaknya biaya listrik di pabrik tekstilnya, sehingga memaksanya membeli dua turbin angin untuk mencukupi kebutuhan listriknya sehari-hari. sejak tahun 2001 dia mulai tergerak oleh ramalan pemanasan global dan Maladewa yang merupakan tempat liburan favoritnya di tahun 2050 akan tenggelam oleh air laut, lalu dia menjual pabrik tekstilnya dan membuka usaha baru dengan memproduksi pembangkit tenaga angin. Saat ini perusahaannya yang bernama Suzlon menjadi perusahaan penghasil tenaga angin keempat terbesar di dunia.




Dengan meniru tokoh-tokoh seperti Profesor Wangari Maathai, Hammer Simwinga, Barnabas Suebu, Abul Hussam, Shi Zhengrong, dan Tulsi Tanti, kita pasti mampu memberdayakan masyarakat, mengurangi kemiskinan, memperlambat efek pemanasan global dan perubahan iklim yang sangat cepat, menciptakan perdamaian, menjaga lingkungan hidup, dan mencegah kerusakan hutan pada saat yang sama. Semuanya mulai dari hal-hal kecil yang kita lakukan di sekitar kita dan mampu menyebar luas ke seluruh orang yang ada di lingkungan kita sebelum mempunyai dampak yang luas dan kadang tidak penah kita duga sama sekali. Oleh karena itu, mulailah dari sekarang menjadi pelopor lingkungan hidup di sekitar tempat tinggal anda! > > >
Dadang Rusbiantoro

Kerusakan Terumbu Karang Akibatkan Pemanasan Global



10/05/2009 12:56

Liputan6.com, Jakarta: Terumbu karang atau koral seluas 75 ribu kilometer persegi yang merupakan rumah-rumah ikan di perairan Indonesia kini rusak parah akibat tangan-tangan manusia tak bertanggung jawab. Penyebabnya adalah penangkapan ikan menggunakan bom dan pencabutan terumbu karang untuk hiasan aquarium.

Padahal, keberadaan terumbu karang dapat mengurangi efek rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global dan meningginya permukaan laut. Semakin menipis koral, semakin panas pula suhu bumi.

Solusi kerusakan lingkungan ini akan jadi salah satu topik terpenting yang akan dibahas enam kepala negara termasuk Indonesia dalam Coral Triangle Initiative Summit di World Ocean Conference di Manado, Sulawesi Utara, mulai 11 hingga 15 Mei 2009.(IRN/David Silahooij dan Anto Susanto)

Pengertian Global Warming

global warmingPertanyaan kita di sini adalah apakah pemanasan global atau global warming itu sesungguhnya? Global Warming adalah meningkatnya temperatur suhu rata-rata di atmosfer, laut dan daratan di bumi Penyebab dari peningkatan yang cukup drastis ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi (yang diolah menjadi bensin, minyak tanah, avtur, pelumas oli) dan gas alam sejenisnya, yang tidak dapat diperbaharui). Pembakaran dari bahan bakar fosil ini melepaskan karbon dioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer bumi. Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari Matahari yang dipancarkan ke Bumi.

Penghasil terbesar dari global warming ini adalah negara-negara industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Kanada, Jepang, China, dan lain-lain yang berada di belahan bumi utara. Global warming ini dapat terjadi karena pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat negara-negara utara yang 10 kali lipat lebih tinggi dari penduduk negara selatan yang kebanyakan adalah negara berkembang. Meskipun kontribusinya pada global warming tidak setinggi Negara-negara industri, Negara-negara berkembang juga ikut menghasilkan karbon dioksida dengan meningkatnya industri-industri dan perusahaan tambang (dengan bahan migas, batubara dan yang terutama berbahan baku fosil). Selain itu Negara seperti Indonesia juga ikut mempunyai andil dalam global warming ini karena menyumbangkan kerusakan hutan yang tercatat dalam rekor dunia Guinnes Record of Book sebagai negara yang paling cepat dalam merusak hutannya. Padahal selama ini sudah diketahui bahwa hutan tropis merupakan paru-paru dari bumi dan menyerap paling banyak karbon di udara. Bahkan dari data panel ahli untuk perubahan iklim (IPCC) menempatkan Indonesia pada posisi tiga besar Negara dengan emisi terbesar di bawah Amerika Serikat dan China, hal ini disebabkan oleh asap yang ditimbulkan dari kebakaran lahan dan hutan di Indonesia.

Indonesia mempunyai luas hutan sekitar 126 juta hektar, tapi saat ini terjadi penurunan yang sangat drastis. Menurut data dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), sejak tahun 2000 sampai tahun 2004, hutan yang rusak mencapai 3,4 juta hektar per tahun. Di tahun 2005 menjadi 2,8 juta ha dan di tahun 2006 menurun menjadi 2,73 juta ha. Penebangan hutan di Indonesia kemungkinan semakin meningkat mengingat harga minyak kelapa sawit dunia makin melambung tinggi dan berpotensi menjadi bahan bakar untuk biodiesel, sehingga banyak hutan yang akan disulap menjadi perkebunan kelapa sawit.

Rata-rata temperatur permukaan bumi sekitar 15 derajat Celsius(59 derajat Fahrenheit), tapi selam seratus tahun terakhir ini, rata-rata temperatur bumi telah meningkat sebesar 0,6 derajat Celsius (1 derajar Fahrenheit). Para ilmuan memprediksi pemanasan lebih jauh hingga 1,4 – 5,8 derajat Celsius (2,5 – 10,4 derajat Fahrenheit) pada tahun 2100. Di dalam Artikelnya yang berjudul Climatic Change, Jim Hansen mengatakan bahwa kenaikan suhu 1 derajat Celsius saja bisa memicu melelehnya lapisan es di dunia. Proses ini bisa diawali dari Greenland yang bakal melepaskan gunung-gunung es-nya ke lautan. Akibatnya permukaan laut akan naik menjadi beberapa meter. Kenaikan temperatur ini akan menghangatkan lautan, yang mengakibatkan meningkatnya volume lautan serta menaikkan permukaannya sekitar 9 – 100 cm (4- 40 inchi), menimbulkan gelombang pasang yang sangat dahsyat di daerah pantai, bahkan dapat menenggelamkan pulau-pulau di seluruh dunia. Meunurut ramalannya di tahun 2100, para ilmuwan menyatakan bahwa banyak pulau-pulau kecil di Indonesia akan tenggelam. Beberapa daerah dengan iklim yang hangat seperti di negara-negara tropis akan menerima curah hujan yang lebih tinggi, tetapi tanah juga akan lebih cepat kering. Kekeringan tanah ini akan merusak tanaman, bahkan menghancurkan suplai makanan di beberapa tempat di dunia. Hewan dan tanaman yang tidak mampu bermigrasi ke tempat lain atau beradaptasi dengan perubahan iklim ini akan musnah dan punah.

Menurut temuan Intergovermental Panel and Climate Change (IPCC) yang merupakan sebuah lembaga panel internasional yang beranggotakan lebih dari 100 negara di seluruh dunia, di tahun 2005 terjadi peningkatan suhu di dunia 0,6 – 0,70 (1 derajat Fahrenheit) sejak 1861. IPCC memprediksi peningkatan temperatur rata-rata global akan meningkat 1,4 – 5,8 derajat Celsius (2,5 – 10,4 derajar Fahrenheit) pada tahun 2100. Sedangkan di Asia peningkatan temperatur rata-rata lebih tinggi sampai mencapai 10 kali lipat. Ketersediaan air di negeri-negeri tropis berkurang sampai 10-30 persen akibat melelehnya Gletser (gunung es) seperti pegunungan Himalaya dan mencairnya Kutub Selatan. Seluruh dunia saat ini juga merasakan perubahan ini dengan semakin panjangnya musim panas dan semakin pendeknya musim hujan, selan itu makin maraknya badai dan banjir di kota-kota besar (el Nino atau banjir ROB) di seluruh dunia atau meningkatnya suhu udara yang sangat ekstrem di berbagai tempat.

Dadang Rusbiantoro

GLOBAL WARMING ONLINE| http://mcarmand.blogspot.com

English GermanItalian French
chose your language

Head Line

Info - Global Warming .com

Info - GlobalWarming.org

Info - Greenpeace.org

News - Sains KOMPAS.com

News - GreenRadio.fm

Web directory Indonesia, daftarkan situs internet anda disini