Kurangi Dampak Global Warming, Gunakanlah Kendaraan Umum

Menyangkut | Kendaraan Umum, Polusi Udara, Pencegahan Global Warming

Masih banyak di antara kita yang di dalam satu keluarga mempunyai kendaraan sendiri-sendiri. jika berangkat bekerja atau sekolah, mereka akan menggunakan mobil dan kendaraan masing-masing yang pada akhirnya menciptakan pemborosan energi dan membuat kemacetan lalu lintas. Untuk mengurangi efek pembuangan emisi gas rumah kaca ini adalah menggunakan transportasi umum seperti bis, angkot, subway, atau trem untuk perjalanan di dalam kota. Di Amerika Serikat, transportasi umum mampu menghemat kira-kira 5,3 milyar liter gas dalam setahunnya atau 1,4 juta ton karbondioksida.

Sayang saat ini transportasi umum di Indonesia dirasakan kurang nyaman. Banyak faktor yang menyebabkan orang enggan menggunakan tranportasi umum karena dipandang kurang aman dengan banyaknya copet berkeliaran, berdesak-desakan, dan sering terjadi kecelakaan karena keteledoran sopirnya yang suka sembrono dan sering melakukan aksi kebut-kebutan dengan bis lain. Selain itu, jika kita menggunakan transportasi umum, maka kita dituntut untuk harus berpindah-pindah kendaraan untuk sampai ke tempat kerja dan memakan biaya yang lebih mahal daripada menggunakan kendaraan sendiri. Jika ada transportasi satu jalur ke tempat kerja kita, maka orang akan cenderung beralih ke transportasi umum.

Dadang Rusbiantoro

Kurangi Dampak Global Warming, Bike To Work

>>English Version http://mcarmand.blogspot.com/2009/03/bike-to-work.html

Ada sebuah kisah menarik yang saya dapat dari sebuah milis. Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol, karena tinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena. Untuk memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan waktu satu dekade dan 12 juta dolar. Mereka menggembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagai permukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperatur mulai dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius. Sebaliknya orang Rusia tidak bersusah payah mengeluarkan dana jutaan dolar untuk melakukan riset tentang bulpen yang digunakan di luar angkasa seperti orang Amerika. Mereka hanya menggunakan pensil!.

Seringkali kita terkecoh saat menghadapi suatu masalah, dan walaupun masalah tersebut terpecahkan, tetapi pemecahannya yang ada bukanlah suatu pemecahan yang efisien dan justru malah rumit. Oleh karena itu, kita perlu mencari solusi yang sederhana dengan metode KISS (Keep It Simple Stupid).

Begitu juga kita mencari solusi untuk memecahkan maslah bagaimana mengatasi krisis energi dan mendapatkan energi terbarukan. Ada solusi yang jauh lebih sederhana untuk mengatasi polusi yang ditimbulkan oleh bahan bakar fosil ini, yaitu mengubah gaya hidup kita yang selalu memakai kendaraan bermotor atau mobil setiap kita berangkat kerja atau ke sekolah dengan bersepeda. Selain berolahraga dan menyehatkan tubuh, bersepeda adalah aktivitas yang mengeluarkan karbon netral atau menghasilkan karbon dengan titik nol. Kita tidak perlu susah-susah mencari energi terbarukan yang mungkin sangat susah untuk diperoleh dan membutuhkan penelitian yang memakan biaya yang sangat besar. Untuk mengolah energi terbarukan ini seperti jagung, tebu, alga, atu jarak juga membutuhkan proses panjang dan memakan waktu lama untuk menjadi etanol. Belum lagi perusahaan mobil juga harus memproduksi mobil yang menggunakan biofuel atau bio diesel, sehingga kendaraan yang masih memakai bahan bakar fosil tidak akan berguna lagi.

Saat ini gerakan Bike to Work sudah menjadi gaya hidup baru bagi para eksekutif di Jakarta. Gerakan Bike to Work ini bermula dari sekelompok penggemar sepeda MTB (mountain bike) di Jakarta yang punya semangat, gagasan dan harapan terwujudnya udara bersih di perkotaan khususnya Jakarta, maka lahirlah Komunitas Pekerja Bersepeda (bike to work Community). Komunitas ini berkeinginan untuk mengkampanyekan penggunaan sepeda sebagai alternatif mode transportasi, utamanya ke tempat kera (bike-to-work). Sejak 6 Agustus 2004, mereka telah melakukan kampanye rutin setiap bulan hingga saat ini dengan melakukan penyebaran media informasi berupa pamphlet (news flyer), serta menjalin kerjasama dengan berbagai media massa dan cetak. Saat ini sudah ada beberapa cabang Bike to Work di beberapa kota besar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Tujuan mereka membentuk komunitas ini adalah mereka ingin bersepeda dengan aman dan nyaman bukan lagi merupakan suatu impian belaka, sehingga banyak masyarakat yang mau menggunakan speda sebagai sarana transportasinya dan mencegah polusi, menghemat BBM, mengurangi angka kemacetan di lalu lintas, dan menyehatkan tubuh dan menjadi bugar dalam beraktifitas. Kemacetan lalu lintas yang begitu panang di kota-kota besar benar-benar tidak ekonomis dan merupakan pemborosan energi, membuang-buang gas ruah kaca secara percuma, dan seringkali menimbulkan stres berkepanjangan bagi setiap orang yang terjebak di dalamnya. Biasanya mereka akan naik sepeda sampai ke stasiun kereta atau halte bis terdekat. Setelah itu mereka memarkirkan sepedanya di halte dan naik bis sampai ke kantor. Atau jika jarak dari rumah ke kantor relatif dekat, mereka cenderung menggunakan sepeda daripada mobil atau sepeda motor.

Sayangnya gerakan Bike to Work ini belum didukung infrastruktur yang memadai L seperti fasilitas bersepeda yang memadai, yaitu tempat parkir sepeda yang layak, fasilitas mandi umum yang cukup, dan jalur khusus yang disediakan bagi para penunggang sepeda di jalan raya di kota-kota besar. Mereka terpaksa harus ikut berdesak-desakan dengan mobil-mobil dan bis yang memakan banyak tempat dan tidak nyaman. Apalagi tingkat keselamatan bagi para pengendara sepeda masih sangat kurang dan sering terjadi kecelakaan di jalan raya karena para pengendara mobil atau sepeda motor kurang menghargai para pengendara sepeda ini. kadang pengguna sepeda juga kurang dilengkapi peralatan seperti helm, lampu depan dan belakang, masker, dan sarung tangan, sehingga sering membahayakan keselamatan jiwanya.

Oleh karena itu, gerakan Bike to Work ini dapat tercapai apabila pemerintah, pengelola perkantoran, pengelola fasilitas umum, dan masyarakat mempunyai komitmen bersama-sama untuk memberikan infrastruktur dan jalur bersepeda dari rumah sampai ke kantor dengan aman dan nyaman. Jika tidak, maka usaha positif yang telah dilakukan ini akan mendapat banyak kendala yang sangat berat.

Dadang Rusbiantoro

Save Trees | Bersepeda, Polusi Udara, Pencegahan Global Warming

GLOBAL WARMING ONLINE| http://mcarmand.blogspot.con

Reforestasi Mencegah Global Warming

Salah satu usaha untuk mengurangi efek pemanasan global adalah melakukan reforestasi atau menghijaukan hutan yang gundul dan menanam pohon yang dapat menyerap karbondioksida, terutama penghijauan kembali hutan tropis sebagai paru-paru bumi. Sayang usaha seperti ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Contohnya penanaman pohon di Taman Nasional Gunung Elgon, di timur Uganda. Dengan didukung oleh perusahaan dari Belanda untuk mewujudkan usaha perdagangan karbon, mereka melakukan reforestasi hutan di taman nasional dan menginventasikan $4 juta untuk menanam 3,4 juta pohon di lahan seluas 130 mil yang masih kosong. Di tahun 2020, mereka juga menjual kredit kepada penumpang pesawat yang ingin membeyar gantirugi dari emisi yang mereka keluarkan, menginvestasikan kembali pendapatan mereka dengan menanam pohon.

Usaha reforestasi ini sepertinya adalah ide yang sangat cemerlang sampai ada masalah dengan petani yang tinggal di dalam Taman Nasional. Para petani berjuang keras menuntut lahannya kembali dan melakukan tuntutan hukum di peradilan. 15 tahun lalu mereka pernah diusir dari Taman Nasional dan rumahnya dibakar oleh polisi hutan. Di tahun 2006, saat pengadilan mengabulkan permintaan mereka, maka para petani langsung membabat habis pohon yang dianggap berada di lahan mereka dan menanaminya dengan jagung dan kacang hijau. Sekitar setengah juta pohon dari Face Fondation yang ditanam di Taman Nasional Gunung Elgon tersebut ditebang oleh para petani.

Akhirnya muncullah konflik antara petani dan paramiliter sebagai otoritas kehutanan di Uganda. Pada bulan maret, polisi hutan menembak seseorang lelaki yang sedang menebang pohon dan menyiksa dan memukul beberapa petani. Insiden ini menimbulkan kemarahan para petani yang sesungguhnya mencoba mencari pendapatan yang cukup agar mereka bisa bertahan hidup. Sebaliknya bagaimana cara polisi hutan yang mengatasi pencurian kayu atau perambah hutan tanpa melakukan kekerasan, itulah masalah yang paling sulit diatasi dan belum ada solusi yang terbaik karena masyarakat yang hidup di dalam hutan juga butuh makan, tempat tinggal, dan lahan untuk bertani.

Jika ada proyek reforestasi dan aforestasi di Indonesia, maka kasusnya tidak akan jauh berbeda dengan di Uganda atau di Ekuator. Selama ini sudah banyak sekali illegal logging yang dilakukan baik oleh penduduk yang tinggal di sekitar hutan dan perusahaan swasta di seluruh Taman Nasional Indonesia yang belum teratasi. Jika ada reforestasi di Indonesia sebagai kelanjutan dari proyek dari CDM dan perdagangan karbon, maka proyek ini juga akan menimbulkan konflik yang cukup pelik dengan penduduk lokal di sekitar hutan, petani berladang berpindah, atau suku terasing yang tinggal di dalam hutan atau di Taman Nasional. Proyek CDM ini juga berpotensi menyingkirkan ribuan komunitas lokal dari hutan akibat privatisasi hutan oleh perusahaan-perusahaan yang ditunjuk sebagai pelaksana proyek CDM ini. Masyarakat lokal sangat terancam oleh penghancuran dan hilangnya akses terhadap hutan dan dampaknya secara langsung akan menghancurkan penghidupan mereka. Jika konflik ini tidak tertangani dengan tuntas, maka dengan sendirinya proyek ini akan terancam menemui kegagalan total seperti yang terjadi di Uganda.
Dadang Rusbiantoro

Save Trees | Penghijauan, Reforestasi, Pencegahan Global Warming

GLOBAL WARMING ONLINE| http://mcarmand.blogspot.com

English GermanItalian French
chose your language

Head Line

Info - Global Warming .com

Info - GlobalWarming.org

Info - Greenpeace.org

News - Sains KOMPAS.com

News - GreenRadio.fm