Tampilkan postingan dengan label Lainnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lainnya. Tampilkan semua postingan

Pengertian Efek Rumah Kaca

Lalu pertanyaan kita selanjutnya adalah apakah rumah kaca itu sesungguhnya? Menurut sumber dari Wikipedia menyatakan bahwa energi yang menerangi bumi datang dari Matahari. Sebagian besar energi yang membanjiri planet kita ini adalah radiasi gelombang pendek. Ketika energi ini memasuki permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas dan menghangatkan Bumi. Permukaan bumi akan memantulkan kembali sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke luar angkasa, walaupun sebagian tetap terperangkap di atmosfer Bumi. Gas-gas tertentu di atmosfer termasuk uap air, karbon dioksida, dan metana akan menjadi perangkap radiasi ini. gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Akumulasi radiasi matahari di atmosfer Bumi ini menyebabkan suhu Bumi menjadi semakin menghangat.

Kenapa gas-gas ini sering disebut sebagai gas rumah kaca? Salah satu alasannya adalah mekanisme pemanasan ini sama seperti yang terjadi di rumah-rumah kaca yang digunakan untuk perkebunan di negara-negara sub tropika seperti di Eropa dan Amerika Serikat. Biasanya para petani menggunakan rumah kaca di saat musim dingin tiba. Tanaman-tanaman yang ditanam di dalam rumah kaca ini akan tetap hidup dan tidak mati membeku oleh pengaruh musim dingin karena kaca akan menghalangi panas metahari yang masuk dan memantulkan kembali keluar. Rumah kaca ini bisa digunakan untuk pembibitan dan berfungsi untuk menghangatkan tanaman yang berada di dalamnya. Rumah kaca ini sendiri sudah ada sejak abad ke-16 di Eropa dan biasa digunakan untuk membudidayakan mawar, lobak, sawi, brokolo, atau tanaman lainnya di musim dingin.

Inilah mengapa sering terjadi kesalah pahaman di antara kita bahwa efek rumah kaca adalah disebabkan oleh adanya rumah-rumah kaca yang terlalu banyak di perkotaan, tapi lebih dikarenakan oleh emisi karbon yang terlalu banyak di angkasa, sehingga menyulitkan panas memantul kembali ke luar angkasa. Gas-gas seperti uap air, karbon dioksida, dan metana berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca, sehingga gas-gas ini dikenal sebagai gas rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya. Orang yang pertama kali menyingkap fenomena efek rumah kaca ini adalah Jean-Baptise Joseph Foureurer sebagai ahli fisika dan matematika dari Perancis. Penemuan Fourier ini diteruskan oleh seorang fisikawan Swedia yang bernama Svante Arrhenius pada tahun 1894.

cfcSalah satu gas rumah kaca itu adalah CFC. CFC merupakan kepanjangan dari (Chloro Fluoro Carbon) atau yang disebut sebagai Freon, CFC ini menyerang Ozon, akibatnya kandungan Ozon di angkasa menipis dan mengakibatkan lubang di kutub utara dan selatan, sehingga UV (ultraviolet) mampu menerobos masuk ke atmosfer dan menyebabkan terjadinya radiasi. Radiasi dari UV ini akan mengakibatkan kanker kulit jika terkena langsung kulit manusia dalam waktu yang cukup lama, apalagi bagi manusia yang mempunyai hobi berjemur. Jika lapisan ozon semakin menipis dan berlobang, maka bumi ini seakan telanjang dan tidak ada lagi pelindung dari radiasi UV. CFC ini dua ribu kali lebih efektif memperangkap radiasi gelombang panjang daripada karbon. Menurut CFC ini dapat bertahan di atmosfer selama beberapa dekade, sedangkan satu molekul karbon dioksida dapat bertahan sampai 100 tahun, satu molekul nitrous oksida selama 170 tahun, dan satu molekul metana selama 10 tahun.

ch4Gas rumah kaca lainnya adalah metana. Metana adalah gabungan kimia antara unsur formula molekul CH4. Metana ini cukup melimpah dan pembakarannya cukup bersih, sehingga bisa dijadikan bahan bakar dan biasanya dikonversi menjadi metanol. Metana dihasilkan secara alami oleh bakteri yang hidup dan tumbuh subur di rawa-rawa. Bakteri ini menghasilkan metana di dalam selnya. Metana juga terdapat di dalam sistem pencernaan binatang. Binatang pemamah biak seperti sapi dan kambing mempunyai mikroba dalam perutnya yang biasanya digunakan untuk mencerna rerumputan. Beberapa mikroba ini melepaskan metana sebesar 250 gram setiap harinya.

Metana juga dihasilkan oleh padi di sawah. Proses pelepasan metana ini terjadi karena tumbuhan seperti padi pasti membutuhkan genangan air yang cukup. Sistem pertanian dengan sawah semacam ini menciptakan lumpur yang menghasilkan bakteri penghasil metana. Metana akan dilepaskan ke udara saat sawah mulai dikeringkan. Selain itu, padi ini sendiri juga melepas beberapa metana dan budidaya padi ini juga memproduksi nitrogen dioksida dari peruraian pupuk. Dengan peningkatan kebutuhan beras sebagai makanan pokok manusia terutama bagi penduduk di Asia, maka sawah-sawah semakin luas dan jumlah pelepasan metana di atmosfer bumi akan meningkat sangat tajam.

Menurut Enviromental News Network menyimpulkan bahwa budidaya padi adalah satu di antara penyebab utama peningkatan emisi metana-salah satu gas rumah kaca yang 21 kali lebih berpotensi menyebabkan efek rumah kaca dibandingkan karbon dioksida yang menyebabkan kerusakan ozon dan kenaikan suhu. Untuk mereduksi emisi gas ini, salah satu yang dilakukan oleh International Rice Research Institude (IRRI) adalah pada tahap awalnya memperbaiki vareitas padi yang tahan terhadap panas dan kemungkinan akan menghasilkan padi yang tidak begitu besar mengeluarkan emisi gas rumah kaca. Tapi masalah lain yang ditimbulkan oleh varietes padi yang dihasilkan dari tumbuhan trangenik (tanaman hasil penyilangan dari varietes unggul dan merupakan sebuah rekayasa genetika) ini adalah efek buruk terhadap ketergantungan petani untuk mendapatkan benih padi, insektisida, dan pupuk dari industri pertanian yang cukup besar tanpa bisa menjadi mandiri.

Sementara itu di Thailand, sosialisasi efek global warming terhadap petani adalah dampak buruk pembakaran sisa tanaman yang akan menghasilkan karbon dioksida dan pengairan yang berlebihan akan menghasilkan gas metana. Sedangkan di Indonesia, global warming ini masih menjadi sebatas wacana ilmiah di antara kaum intelektual yang sangat terbatas dan belum dipahami secara menyeluruh kepada seluruh penduduk Indonesia dan terutama kepada petani, sehingga belum ada antisipasi yang meyeluruh dan koordinasi yang baik untuk mereduksi efek global warming.

Metana juga dihasilkan oleh sampah. Diperkirakan 1 ton sampah padat akan menghasilkan 50 kg gas metana. Pada tahun 2020 diprediksi sampah di Indonesia mencapai 500 juta kg perhari atau 190 ribu ton per tahun, sehingga kemungkinan besar akan mengemisikan gas metana sebesar 9500 ton per tahun. Sampah-sampah ini sebenarnya bisa dijadikan listrik dengan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) seperti yang saat ini sedang dirancang di Bandung. Tapi sayang pembangkit listrik semacam ini memakan biaya yang cukup besar, tapi hanya mampu menghasilkan kapasitas listrik yang terbatas. Belum lagi pencemaran dari zat dioksin yang berbahaya bagi manusia.

Berikutnya >>

Dadang Rusbiantoro

GLOBAL WARMING ONLINE| http://mcarmand.blogspot.com

12 Tips Menyelamatkan Alam


1. Pisahkan sampah organik dan sampah anorganik.

Biasakanlah memilah-milah sampah anorganik dan organik di mana saja untuk memudahkan pengelolaan sampah tersebut. :D
2. Kurangi penggunaan bahan anorganik.
Biasakanlah bawa kantong belanja sendiri, kurangi beli barang dalam satuan kecil contohnya sachet sampo, detergen, dan lain-lain.
3. Dukunglah petani lokal
Dengan membeli buah-buahan, sayur-sayuran, daging, dan susu dari petani lokal yang dekat dari rumah kita, maka kita menghemat bahan bakar dari truk yang membawa produk pertanian itu samapai ke rumah kita.
4. Hemat dalam penggunaan kertas.
Biasakanlah menggunakan kertas di kedua sisi.
5. Hemat dalam penggunaan air dan BBM.
Bahan bakar minyak suatu saat akan habis dari bumi ini dan sejauh ini pengembangan sumber energi alternatif masih dalam taraf percobaan.
6. Hemat dalam penggunaan listrik.
Biasakanlah meminimalkan penggunaan listrik dari jam 5 sore sampai 10 malam, karena itu waktu beban penggunaan listrik. Sebagian besar energi listrik di Indonesia diperoleh dari BBM, jadi hemat listrik = hemat BBM
7. Jadilah pelopor lingkungan.
Dunia sedang terancam oleh pemanasan global dan perubahan iklim yang sangat cepat. Untuk mencegahnya, kita tidak perlu menunggu orang lain untuk bergerak, tapi kita bisa mulai dari diri kita.
8. Bergabunglah dengan organisasi lingkungan.
Bargabunglah dalam organisasi lingkungan pasti menyenangkan. Anda bisa menyelamatkan dunia.
9. Jangan memelihara, memburu, atau mengonsumsi hewan langka.
Punahnya satu spesies akan memiliki pengaruh berantai yang akhirnya dapat memutuskan siklus kehidupan dan memberikan dampak serius pada keseluruhan ekosistem. :v
10. Jangan buang sampah sembarangan, apalagi di selokan dan sungai.
Biasakanlah hidup teratur. Buang sampah di sembarang tempat pada akhirnya akan mengalir ke selokan, selanjutnya ke sungai dan berakhir di laut. Laut bukan tempat buang sampah. Anda sudah mengetahui dampaknya bukan?
11. Jangan memilih kendaraan yang boros dan tidak ramah lingkungan.
Biasakanlah bersepeda atau berjalan kaki jika jarak ke tempat tujuan kurang dari 1 Kilometer.
12. Masing-masing dari kita memelihara setidaknya satu pohon.
Kita bernapas menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida, sebaliknya pohon dalam fotosintesis menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen. Biar impas minimal kita tanam dan rawat satu pohon.

Menuntut Keadilan Iklim

Konvensi Perubahan Iklim, Penyerapan Karbon, Pengertian Iklim

SECARA UMUM iklim didefinisikan sebagai kondidi rata-rata suhu, curah hujan, tekanan udara, dan angin dalam jangka waktu yang panjang, antara 30-100 tahun (inter centennial). Pasca revolusi industri terjadi peningkatan secara perlahan terhadap unsur-unsur iklim (suhu, curah hujan, tekanan udara). Peristiwa ini dikenal dengan perubahan Iklim, perubahan Iklim adalah fakta, Fenomena penyimpangan iklim yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia memberikan pemahaman tersendiri kepada kita tentang bentuk-bentuk dari perubahan iklim misalnya : banjir, longsor, kekeringan, gagal panen, gagal tanam, kebakaran hutan, Gelombang pasang, angin putting beliung dan sebagainya. Sebagian besar masyarakat justru telah merasakan dampaknya secara langsung. Semua ini adalah implikasi dampak dari semakin tingginya emisi gas rumah kaca yang sudah menyelubugi bumi, semakin tingginya emisi yang dihasilkan oleh negara-negara industrialis maju searah dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat, diperparah perilaku individu atau kelompok yang melakukan proses eksploitasi sumber daya alam secara terus menerus dan tidak terkontrol di berbagai daerah belahan dunia.

Pertemuan Para Pihak Konvensi Perubahan Iklim yang telah dilaksanakan di Bali awal hingga pertengahan Desember 2007, justru dijadikan ajang pemerintah Indonesia untuk melihat peluang besar dalam menggalang dana-dana dari negara maju . Baik dana adaptasi maupun mitigasi dalam bentuk mendorong mekanisme Carbon Sink masuk ke dalam CDM (Clean Development Mechanism). Mekanisme Penyerapan Karbon (Carbon sink) adalah mekanisme penyerapan atau perosot karbon dengan menggunakan pohon, tanah, dan laut untuk menyerap karbon yang ada di atmosfir, sehingga ‘mengontrakkan’ hutan tropis Indonesia untuk dijadikan hutan penyerap karbon dari emisi yang dikeluarkan negara maju dengan menawarkan carbon trading atau penurunan emisi gas rumah kaca melalui upaya pencegahan deforestasi dan kerusakan hutan reduced emissions from deforestation and degradation (REDD)

Hasil ini bukan jawaban atas akar permasalahan fenomena perubahan iklim yang terjadi. Karena dengan asumsi bahwa negara maju yang mengeluarkan uangnya untuk penyerapan karbon di negara berkembang akan mendapatkan ‘surat ijin’ untuk tetap berhak mencemari atmosfir tanpa harus menurunkan emisi mereka. Dengan kata lain, membayar untuk mencemari.

Indonesia sebagai salah satu negara agraris yang terdiri dari gugus-gugus pulau akan sangat rentan terhadap dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim. Tanpa adanya upaya yang terencana dan terintegrasi, maka dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim akan sangat besar baik terhadap sistem alam maupun sistem kehidupan manusa. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap kejadian iklim ekstrim saat ini harus segera dilakukan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim. Keterlambatan dalam melakuakan upaya-upaya terhadap perubahan iklim. Keterlambatan dalam melakukan upaya-upaya tersebut akan berakibat pada meningkatnya tingkat kerentanan sistem alam dan kehidupan manusia terhadap perubahan iklim dan akhirnya akan semakin besar biaya yang harus dikeluarkan nantinya.

SUPARLAN

Direktur Eksekutif WALHI Yogya.


GLOBAL WARMING ONLINE| http://mcarmand.blogspot.com

Organisasi pecinta lingkungan (FOEI dan WALHI)

a. Kampanye Perubahan Iklim

Kampanye perubahan iklim bertujuan untuk mengurangi aktivitas manusia yang menyebabkan pemanasan global. FOEI juga menawarkan hukum iklim dengan mengurangi emisi karena industri dunia dengan latar belakang untuk mengurangi perubahan iklim akibat pemanasan global.

b. Kampanye Karja Sama

Kampanye kerja sama berisi tentang bujukan agar penduduk bumi lebih memilih sistem ekonomi lokal yang sesuai dengan lingkungannya dan menentang kerjasama ekonomi yang merugikan.

c. Kampanye Hutan

Kampanye hutan bertujuan untuk mengurangi penebangan hutan dan konversi hutan menjadi lahan pertanian. FOEI menganjurkan agar komunitas lokal hutan turut mengontrol hutan masing-masing.


WALHI (Wahana Lingkungan Hidup)

WALHI dibentuk oleh sekelompok tokoh nasional yang peduli lingkungan sehingga WALHI merupakan organisasi swadaya. Tokoh-tokoh pendirinya antara lain Emil Salim, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Tjokropanolo, dan Erna Witoelar. Mereka menginginkan agar tanggung jawab menjaga lingkungan hidup menjadi gerakan dalam masyarakat. Diharapkan dengan wadah ini masyarakat serius mengenali persoalan lisngkungan hidup serta menemukan solusi memecahkan permasalahanya. Dengan tujuan tersebut, pada tanggal 15 Oktober 1980 terbentuklah WALHI (Wahana Lingkungan Hidup). J

Berbagai kegiatan dilaksanakan oleh WALHI, antara lain agenda rutin yaitu kampanye di berbagai lingkungan.

1. Kampanye tentang Air

2. Kampanye Hutan

3. Kampanye Energi

4. Kampanye Pencemaran

5. Kampanye Pengelolaan Bencana

6. Kampanye Pesisir dan Laut


GLOBAL WARMING ONLINE| http://mcarmand.blogspot.com

Isi Protokol Kyoto

Pengertian Protokol Ktoto, Tujuan Protokol Kyoto, Penurunan Emisi

Protokol Kyoto adalah sebuah persetujuan sah di mana negara-negara perindustrian akan mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5,2% dibandingkan dengan tahun 1990 (namun yang perlu diperhatikan adalah, jika dibandingkan dengan perkiraan jumlah emisi pada tahun 2010 tanpa Protokol, target ini berarti pengurangan sebesar 29%). Tujuannya adalah untuk mengurangi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca – karbon dioksida, metan, nitrous oxide, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC – yang dihitung sebagai rata-rataselama masa lima tahun antara 2008-12. Target nasional berkiasar dari pengurangan 6% untuk Uni Eropa, 7% untuk AS, 6% untuk Jepang, 0% untuk Rusia, dan penambahan yang diizinkan sebesar 8% untuk Australia dan 10% untuk Islandia.(Sumber Wikipedia)

Target penurunan emisi dikenal dengan nama quantified emission limitation and reducation commitment (QELROs) merupakan pokok permasalahan dalam seluruh urusan Protokol Kyoto dengan memiliki implikasi serta mengikat secara hukum, adanya periode komitmen, digunakannya rosot (sink) untuk mencapai target, adanya jatah emisi setiap pihak di Annex I, dan dimasukannya enam jenis gas rumah kaca seperti CO2, CH4, N2O, HFC, PFC dan SF6 (basket of gases) dan disertakan dengan CO2.

Protokol Kyoto adalah protokol kepada Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim atau yang dikenal sebagai UNFCCC. UNFCCC ini diadopsi pada Pertemuan Bumi di Rio de Jenerio pada 1992. Semua pihak dalam UNFCCC dapat menanda tangani atau meratifikasi Protokol Kyoto, sementara pihak luar tidak diperbolehkan. Protokol Kyoto diadopsi pada sesi ketiga Konferensi Pihak Konvensi UNFCCC pada 1997 di Kyoto, Jepang.

Dadang Rusbiantoro

GLOBAL WARMING ONLINE| http://mcarmand.blogspot.com

Jaman Es

Ice Age, Efek Zaman Es, Akhir Zaman Es

Pemanasan global ini tidak terjadi hanya saat ini saja, tapi di jaman dahulu pernah terjadi beberapa kali dalam sajarah pembentukan bumi. Pemanasan global inilah yang menyebabkan jaman es itu sesungguhnya. Jaman es adalah periode di dalam sejarah pembentukan bumi saat terjadi pendinginan yang meluas di atmosfer dan lautan. Munurut para peneliti, jaman es ini terjadi empat kali di bumi pada masa lalu. Pertama kali disebut Huronian yang terjadi sekitar 2,7 sampai 2,3 milyar tahun yang lalu selama masa awal Proterozoic Eon. Jaman Es yang terbaru yang paling hebat mungkin terjadi sekitar 1 milyar tahun yang lalu, pada periode Cryogenian atau sekitar 850 sampai 630 juta tahun yang lalu dan kemungkinan menciptakan bola salju di bumi dimana es secara permanen menyelimuti seluruh permukaan bumi. Jaman es ini diperkirakan terjadi pada setiap 150 juta tahun dan berlangsung selama beberapa juta tahun.

Jaman es yang terakhir terjadi 40 juta tahun yang lalu dengan pertumbuhan lapisan es di kutub utara yang menebal dan menjadi lebih meningkat di sekitar 3 juta tahun yang lalu pada kahir jaman Pliestocene, tapi berakhir sekitar sepuluh ribu tahun yang lalu. Penyebabnya masih kontroversial baik dalam skala besar atau kecil. Semuanya tergantung beberapa faktor yang penting seperti komposisi karbondioksida, metana, sulfurdioksida, dan beberapa gas lainnya di atmosfer. Beberapa ilmuwan berspekulasi bahwa jaman es ini disebabkan ledakan vulkanik dari gunung purba yang sangat dahsyat, sehingga debu-debu vulkaniknya menutupi seluruh atmosfir dan permukaan di bumi dan menghalangi sinar matahari seperti ledakan gunung Toba di Sumatera Utara yang begitu besar.

Spekulasi lainnya adalah jaman es ini diakibatkan pergeseran antara benua seperti yang terjadi 60 juta tahun yang lalu saat benua Laurisia di utara berpisah dengan Gondwanaland di selatan, sehingga Afrika, Arab, dan India bepisah dengan Eurasia. Akhirnya benua Australia berpisah dengan Antartika Ada kemungkinan jaman es ini juga diakibatkan bumi bertabrakan dengan meteor yang cukup besar, sehingga terjadi ledakan yang sangat dahsyat. Ada juga yang berpendapat bahwa rotasi bumi dan matahari dalam tata surya berada posisi yang tidak simetris dengan galaksi bima sakti yang terjadi setiap 150 juta tahun sekali dan mengubah iklim bumi.

Jaman Es ini dapat terjadi dalam waktu yang cukup singkat hanya dalam beberapa abad saja yang dimulai dengan perubahan iklim dari kondisi hangat menuju ke kondisi membeku. Selama jaman es, temperatur bumi rata-rata mencapai 7 atau 8o C (13 atau 14o F) yang jauh dingin dari suhu bumi saat ini. jika terjadi penurunan suhu bumi sedikit saja akan menimbulkan jaman es secara cepat, tapi sebaliknya peningkatan sehu sedikit saja akan mengakhir jaman es dan mencairkan es di kutub.

Banyak ilmuwan juga berspekulasi bahwa jaman es ini merupakan penyebab kepunahan dinosaurus yang biasanya hidup di daerah tropis dan hutan yang berrawa-rawa, tapi sejak bumi menjadi membeku, hutan berawa-rawa menjadi lenyap. Akibatnya para dinosaurus ini bukan saja kehilangan sumber makanan dan habitatnya, tapi mereka harus beradaptasi dengan iklim bumi yang sangat dingin dan membeku. Hanya sedikit sekali dari dinosaurus ini berhasil bertahan hidup dan kisah ini diceritakan dengan menarik dalam filem Ice Age produksi 20th Century Fox .

Pada jaman es, sebagian besar daratan Inggris dan Amerika utara tertutup lapisan es seperti kondisi yang terjadi di Kanada utara dan Eropa utara saat ini. Sebaliknya teperatur di daerah tropis tidak berubah. Lapisan es ini hanya menyelimuti 30 persen permukaan bumi dan 70 persennya bebas dari es. Saat ini lapisan es dipermukaan bumi hanya tersisa 10 persennya saja.

Efek dari jaman es ini salah satunya saat terjadinya akhir dari dilepaskan ke lautan. Saat jaman es terakhir sekitar 10.000 tahun yang lalu, permukaan laut hanya 130 meter (425 kaki) lebih rendah dari permukaan laut saat ini. Dahulu selat Inggris, laut Irlandia, dan Laut Utara adalah daratan luas, tapi saat es mencair dan air laut meningkat sampai 80 meter (260 kaki) menyebabkan daratan Inggris berubah menjadi kepulauan.

Para ilmuan menduga akhir dari jaman es ini disebabkan oleh meningkatnya gas-gas rumah kaca seperti konsentrasi karbondioksida yang cukup besar di atmosfer atau terjadi perubahan iklim bumi yang cukup drastis. Kemungkinan jaman es bisa terjadi lagi di bumi ini, tapi yang saat ini adalah semua es di kutub utara dan selatan akan mencair dan perubahan iklim yang cukup cepat akan kita alami dalam waktu dekat. Ada orang yang berspekulasi bahwa saat Nabi Nuh membangun perahunya yang sangat besar dan mampu menampung seluruh hewan di dunia, itulah saat jaman es mulai berakhir dan es di kutub mulai mencair. Peningkatan air laut ini menyebabkan air bah yang sangat dahsyat selama beberapa minggu dan seluruh permukaan bumi tergenang air, tapi menjadi pertanyaan kita saat ini adalah perlukah kita membangun perahu yang lebih besar untuk menampung seluruh umat manusia dan binatang di bumi ini seperti yang dilakukan nabi Nuh untuk menghadapi pemanasan global ini? Ataukah kita mengabaikan semua fakta ilmiah yang telah terjadi ini seperti kaum nabi Nuh yang lebih memilih tenggelam oleh air bah daripada mempercayai prediksi nabi Nuh sendiri? Semuanya terletak pada kepedulian kita terhadap bumi yang kita cintai ini. Kita harus berusaha memperlambat terjadinya proses pemanasan global yang sangat sulit untuk dihentikan sama sekali.>>>

Dadang Rusbiantoro

GLOBAL WARMING ONLINE| http://mcarmand.blogspot.com

English GermanItalian French
chose your language

Head Line

Info - Global Warming .com

Info - GlobalWarming.org

Info - Greenpeace.org

News - Sains KOMPAS.com

News - GreenRadio.fm

Web directory Indonesia, daftarkan situs internet anda disini